TRADISI PERAYAAN BULAN MAULID DI MADURA
Rabi’ul
awal atau orang Madura menyebut dengan bulan Molod, dimana pada bulan ini
terdapat sejarah yang selalu di kenang oleh umat islam khususnya orang Madura
dan juga pada bulan ini bertabur sejuta pujian dan rasa syukur yang dilakukan
oleh umat beragama islam. Karena pada bulan ini lahirlah seorang makhluk
terindah yang pernah diciptakan oleh Allah, ia adalah Muhammad SAW, kita
sebagai umat islam patut bersyukur dan memujinya karena seperti yang telah
disebutkan dalam sebuah kitab Maulud Madura yang di karang dengan menggunakan
bahasa Madura dan berbentuk si-iran (Madura),
yang diajarkan di sekolah-sekolah madrasah pada waktu aku masih kecil
dulu, bahwa dengan kelahirannya Nabi Muhammad pohon-pohon berdaun rimbun dan
berbuah lebat, tanah yang tadinya kering menjadi subur, binatang-binatang baik
yang ada dilangit maupun dibumi kelihatan begitu gembira, angin berhembus
sepoi-sepoi, demi menyambut kedatangan lahirnya Makhluk ciptaan Allah yang
mulia.
Menurut riwayat disebutkan bahwa nabi Muhammad
SAW lahir pada hari senin bertepatan
pada tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun gajah, dinamakan tahun gajah karena pada
waktu itu bala tentara yang dipimpin oleh Abrahah gubernur Yaman menyerang kota
Makkah dengan maksud dan tujuan untuk menghancurkan ka’bah dengan mengendarai
gajah, namun sebelum sampai di kota makkah Allah mengirim burung ababil dengan
membawa batu krikil yang berasal dari tanah terbakar, seperti yang diceritakan
dalam al-qura’an surat al-fiil. Dan di lemparkan kepada mereka sehingga rencana
tersebut gagal total.
Peringatan
maulid nabi saw pertama kali dilakukan oleh baginda rosul sendiri dengan cara
berpuasa pada hari senin seperti yang telah disebutkan dalam sebuah hadis sahih
yang diriwayatkan oleh imam muslim bahwa pada saat nabi ditaya mengapa berpuasa
pada hari senin, lalu beliau menjawab “itu adalah hari kelahiranku”. Maka hadis
ini menunjukkan bahwa merayakan atau memperingati hari kelahiran nabi
diperbolehkan oleh syara’. Perayaan tentang kelahiran nabi ini berlanjut sampai
sekarang tetap dilakukan oleh umat beragama islam khususnya orang Madura. Dan
peranyaan maulid nabi ini tidak hanya dipusatkan di tempat peribadahan seperti
masjid dan musolla, tetapi juga di rumah-rumah warga yang merayakan bahkan disekolah-sekolahpun
juga meranyakan kelahirannya tokoh umat muslim dunia.
Ketika
sudah memasuki bulan Rabi’ul awal atau bulan molod (Madura) orang-orang Madura
mulai memperingati hari kelahirannya sang tokoh umat muslim dunia yakni nabi
Muhammad SAW, dengan berbagai macam perayaan yang dilakukan oleh umat muslim.
Bagi umat muslim yang memandang dirinya perekonomiannya menengah keatas dan mau
melaksanakan perayaan maulid nabi dia
meranyakan dengan mewah, seperti mengundang Kia, Ustad sebagai pemandu pembaca
sholawat Mahallul Qiyam dan berceramah mengenai sejarah kehidupan nabi, dan
juga mengundang tetangga terdekat dan
sanak familinya, sedangkan bagi yang memandang perekonomiannya menengah kebawah
dia merayakan dengan sederhana mungkin. Tepat pada tanggal 12 Rabi’ul awal yang
disebut dengan tanggal kelahirannya nabi Muhammad atau hari agung masyarakat
berkumpul di tempat peribadahan seperti masjid, musolla atau langgar untuk
meranyakan maulid nabi secara bersama. Dan peranyaan maulid nabi ini tidak hanya
dilakukan pada tanggal 12 Rabi’ul awal saja, namun ada yang meranyakan selama
satu bulan penuh pada bulan itu dengan silih berganti setiap rumah warga yang
meranyakannya.
Pada
awal pelaksanaan perayaan maulid nabi biasanya yang dibaca ialah surah al-fatilah
kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat Marsanji atau juga disebut sholawat Mahallul Qiyam dan
pada saat pembacaan sholawat ini para undangan tanpa terkucuali semua berdiri
bak seperti hormat kedatangannya nabi, sampai selesai sehingga para undangan
bisa duduk kembali tuk melanjutkan pembacaan do’a.
Seperti
yang telah dituturkan diatas, bahwa pada saat kelahiran nabi pohon-pohon
berdaun rimbun dan berbuah lebat, sehingga pada saat perayaan maulid nabi yang
dirayakan oleh umat muslim khususnya orang-orang Madura sesaji utama yang
suguhkan kepada undangan ialah buah-buahan dan juga dilengkapi dengan kue-kue
tradisional dan nasi pada akhir acara setelah pembacaan sholawat Marsanji dan
doa.
Wa
allah al-a’alam bi al-sawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar