Rabu, 18 Mei 2016

tradisi cop bumih sampang madura

COP BUMI DI DESA POLAGAN KABUPATEN SAMPANG
PENELITIAN
Disusun untuk Memenuhi Mata Kuliah Islam dan Budaya Madura yang Diampu oleh Bapak Mohammad Ali Al-Humaidy, M.SI
Di susun Oleh:
Aisyah Rasdiana Yusuf
Alaina Nurul Hikmah
Amnatus Zahra
Desi Ariska Fajariyah
Durrotun Baido
Maisyuroh
Maklub





PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH
JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
SEKOLAHTINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PAMEKASAN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Di antara daerah-daerah persimpangan budaya, Madura khususnya kabupaten Sampang termasuk salah satu yang banyak menyimpan tradisi dengan seluruh warna-warninya. Masyarakat sampang yang sulit di definisikan dalam konteks etnik sangat kreatif menciptakan pernik-pernik tradisi dan menjaga secara dinamis dalam rentang waktu cukup panjang.
Ritual cop bumih ( menyelamati Bumi) dalam prakteknya selalu berdialog dengan perkembangan sosial dan agama. Menyaksikan pelaksanaan ritual cop bumih kita gak sulit memilah antara tradisi setempat dengan islam yang memang berumur tua Madura khususnya kota sampang tepatnya di desa polagan. Doa yang dibaca berhimpitan dengan dupa berisi kemeyan yang dibakar, disamping ritual untuk menyelamati bumih ini, terlalu sulit dicari rujukannya dalam leteratur islam ortodok. Tetapi, para pendukung tradisi itu, seperti yang menjadi focus penelitian ini, adalah komunitas yang entah dari kapan memeluk agama islam secara konsisten.
Ritual cop bumih ini di lakukan setiap satu tahun sekali oleh warga disina, dan biasanya di lakukan pada hari jum’at manis (Madura).



B.      
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Sejarah Sosial
       Awal munculnya tradisi Cob Bumih yang dilakukan oleh masyarakat Desa Polagan ialah untuk melakukan selamatan untuk bumi dengan harapan setelah melakukan ritual ini, tanah/lahan mereka bisa menghasilkanpertanian tambak garam yang melimpah.
       Dahulu, di zamanpara leluhur, Desa polagan merupakan suatu daerah dengan tekstur tanah yang tidak beraturan. Datarannya curam, menanjak dan tidak rata. Selain itu, tanahnya juga tandus. Setiap hasil pertaniandi desa Polagan, khususnya tambak garam yang memang membutuhkan lahan yang rata selalu mengalami kegagalan. Sulit menemukan lahan subur yang bisa menghasilkan garam berkualitas dan melimpah.
       Suatu ketika, beberapa orang dari tujuh kampung di desa Polagan bertemu dan melakukan suatu kesepatan untuk melakukan suatu ritual sebagai bentuk doa dan pengharapan kepada Allah SWT. yang lantasmereka namakan sebagai "Cob Bumih". Cob yang berarti mengalirkan doa, dan Bumih yang berarti bumi/tanah. Mereka juga sepakat untuk melakukan ritual pada hari jumat legi, karena menurut para leluhurjumat legi merupakan hari paling baik.
       Seperti yang telah disepakati sebelumnya, mereka kemudian melakukan ritual dan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan, seperti halnya mengumpulkan makanan/biji-bijian yang dihasilkan tanah serta telur ayam kampung dari daerah masing-masing untuk kemudian dikumpulkan sebagai lambang bumi yang bulat. Semua bahan serta doa-doa yang dilkukan haruslah sebanyak tujuh untuk melambangkan keselamatan bagi tujuh kampung yang dimaksud.
       Ritual cob bumih ini dilakukan pada setiap tanah yang akan ditempati sebagai lahan pertenian tambak garam. Dan ketentuan baik tidaknya lahan tersebut tergantung pada hasil telur kampung yang sudah direbus.
          Setelah ritual ini dilakukan, secara perlahan tekstur permukaan tanah di Desa Polagan mulai membaik, hasil pertanian tambak garam pun mengalami peningkatan sehingga ritual ini terus dilakukan dan diwariskan pada setiap generasi penerus.
B.  Pelaksanaan Upacara
Cop Bumih (bahasa Madura) yang merupakan suatu adat/kebiasaan masyarakat untuk memberkati bumi (tanah) khususnya tambak garam yang terdapat di desa Polagan kabupaten Sampang. Ritual cop bumih  dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang berurutan seperti yang dituturkan oleh Bapak Baido saat kami temui di tempat kediamannya.
Pertama, mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan bagi kepentingan ritual.
Kedua, mengundang tokoh masyarakat yang dituakan dan dihormati di daerah tersebut.
Ketiga, melakukan pembacaan doadi tempat yang akan digunakan sebagai lahan tambak garam. Doa yang dimaksud di antaranya: surahal-Fatiha yang diiringi dengan bacaan sholawat, surah al-Ikhlas, ayatkursi, dan diakhiri dengan doa keselamatan. Kesemua bacaan  tersebut masing-masing haruslah berjumlah sebanyak tujuh kali.
Keempat,pembukaan cangkang teluryang merupakan penentuan mengenai lahan yang diritualkan.
kelima, nasi tumpeng beserta bahan lainnya yang telah menjadi tradisi pada saat ritual cop bumih, selanjutnya dibagikan pada orang–orang yang menghadiri acara ritualdi saat itu.
Terakhir, Cangkang telur yang sudah dicampur air, daun beringin dan bunga kemudian dikubur di dalam tanah/bumi yang akan digunakan sebagai lahan pertanian garam.
C.  Pemaknaan Beberapa Simbol




 







Sudahsangat sulit Masyarakat setempat di desa Polagan lebih hususnya lagi kaum anak muda mengetahui dan memahami pemaknaan simbol-simbol yang terdapat dalam tradisi “cop bumih” ini. Beberapa masyarakat beranggapan bahwa tradisi ini merupakan warisan dari nnek  moyang atau parasesepuh yang harus dipertahankan dengan tujuan yang tidak lain yaitu untuk memberkati (memberi sesembahan bagi penguasa) bumi/tanah/lahan yang akan digarap agar selamat dari bahaya dan bisa juga dijadikan sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat yang telah Allah berikan melalui hasil panen yang dihasilkan oleh bumi hususnya masyarakat desa Polagan kota Sampang, serta supaya hasil bumi masyarakat di sana lebih baik dan sesuai harapan (melimpah).
Menurut hasil dari wawancara yang kami lakukan pada hari minggu april 2016 dengan salah satu warga yaitu Bapak Moh. Hannan usia 65 tahun dan Ibu Kosim usia 90 tahun, beliau mengatakan alat-alat yang di gunakan dalam acara tradisi “cop bumih” diantaranya:
1. Dupa
2. 7 butir telur ayam kampung
3. Makanan/biji-bijian hasil bumi seperti kacang tanah, dll.
4. Nasi tumpeng
5. 7 lembar daun beringin
6. Buje Cabbih
7. Campuran bunga dan air
8. Uang (seikhlasnya)
Makna filosofi dan rasionalisasi dari bahan-bahan yang dikumpulkan.
1.       Dupa. Masyarakat Madura, khususnya Polagan sangat meyakini bahwa dapat memanggil dan menghadirkan arwah para leluhur yang telah wafat. Dupa di sini digunakan untuk memanggil para nenek moyang pemilik lahan tambak terdahulu untuk meminta doa serta restu mereka.
2.       7 butir telur ayam kampung ini sebagai lambang dari bumi/tanah yang ada pada tujuh kampung yang pada zaman dahulu melakukan ritual pertama kali. 7 butir telur ini direbus bersamaan hingga matang. Apabila setelah di rebus kemudian cangkangnya di dan hasilnya bagus (matang sempurna keseluruhan), artinya bumi/lahan yang akan digarap itu dalam kondisi baik. Sedangkan apabila setelah cangkan dibuka dan telurnya koccor[CROSS A51] (setengah matang) maka, bumi yang hendak digunakan sebagai lahan dalam kondisi buruk.
3.      Makanan hasil bumi seperti: singkong, ketela, kacang, ubi dsb. diartikan sebagai rasa syukur dari hasil bumi yang telah diperoleh sebelumnya, dengan harapan semoga hasil tambak kedepannya lebih banyak lagi.
4.       nasi tumpeng 3 kg sebagai lambang tanah subur yang ditumbuhi oleh pohon beringin.
5.      7 daun beringin. Pohon beringin merupakan tumbuhan kokoh dan memiliki daun yang lebat. Siapa pun yang berada di bawahnya pasti merasa nyaman, teduh, dan terlndung dari sinar matahari.Para leluhur memilih daun berigin sebagai salah satu bahan persembahan, karena mereka berharap 7 kampung yang mereka maksud akan selalu dinaungi dengan barokah dan dilindungi dari malapetaka.
6.      buje cabbih[1] karena pulau madura terkenal dengan pulau  garam, dan diharapkan kualitas garam di Madura semakin baik sehingga Madura bisa mempertahankan status tersebut.
7.      Bunga dan air sebagai campuran cangkang telur yangkemudian akan dikubur bersamaan untuk menghilangkan bau amis yang mungkin tertinggal.
8.      Uang sebagai rebbe.[2]



D.  Merawat Tradisi
       Seperti halnya dari lain di Madura yang sangat kental sekali dengan adat masing-masing, tradisi cop bumih.
       Sekilas tentang wawancara kami dengan Bapak Imam.
       Apa yang bapak ketahui tentang tradisi cob bumih?
       "Saya tidak terlalu paham mengenai anggapan masyarakat terdahulu terkait dengan tradisi ini, karena  ada perbedaan antara dulu dan sekarang, baik dari segi pelakasanaan atau juga alat yang digukan. Kami masih menjalaninya karena semua itu merupaka warisan dari nenek moyang. Yang saya tahu, cob bumih dilaksanakan tidak hanya untuk pertanian tambak garam, tapi juga saat akan melaksanakan pembangunan rumah, dan harus dilaksankan hari jumat manis."
       Saat penelitian, kami sempat melakukan ritual kecil dari cob bumih guna mencoba mengerti dan memahami tradisi tersebut lebih dalam. Kamipun mengikuti semua intruksi yang diarahkan oleh Bapak Baido dan mencari beberapa bahan yang diperlukan.
       Mulai dari pembagian tugas untuk mecari alat, pembacaan doa ritual, hingga penguburan kulit telur dan bunga kai lakukan secara suka cita, meski matahari siang itu sedang terik-teriknya.
       Pada waktu pemecahan cangkang telur, kami dibuat sedikit tercengang karena ketepatan ada dua telur ayam yang tidak matang secara sempurna. Yang berarti, tanah/bumi yang kami berkati sedang dalam keadaan buruk.
E.  Perbedaan Tradisi Terdahulu dan Sekarang
       Dulu, masyarakat Polagan melakukan ritual dengan hanya mengumpulkan bahan-bahan yang telah disebut di atas, sedangkan masyarakat sekarang menambahkan beberapa menu makanan sebagai pelengkap dan untuk menambah cita rasa, seperti: daging ayam, oseng, sayuran, dsb.
       Berikut isi wawancara kami bersama Bapak Imam mengenai penambahan bahan makanan sebagai pelengkap.
       Kenapa bahan persembahan ditambahi denganoseng sayur, ayam goreng, dll.?
       "Ya, biar makanannya tambah nikmat, Cong!"
       Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat saat ini juga tidak keseluruhan menggunakan makanan/biji-bijian yng dihasilkan tanah sebagai persembahan. Sebagian dari mereka menggantinya dengan buah-buahan seperti halnya pisang.
F.   Narasumber
            1. Bapak Baido
            2. Bapak Moh. Hannan
            3. Ibu Kosim
            4. Bapak Imam
G. Dokumentasi Penelitian

IMG_20160424_104028.jpg
IMG_20160424_104140.jpg

IMG_20160424_105902.jpg
 










BAB III
KESIMPULAN
A.  Kesimpulan
Dari pembahasan hasil penelitian yang kelompok kami teliti dapat disimpulkan bahwa tradisi cop bumih adalah tradisi yang biasa masyarakat desa Polagan kota Sampang dilakukan dalam satu tahun sekali tepatnya malam jum’at yaitu sebagai untuk menyelamtkan bumi agar apa yang kita tananm baik dan sesuai dengan harapan masyarakat tersebut. Cop bumih  sudah ada sejak dahulu dari para nenek moyang kita. dalam melaksakan tradisi cop bumih alat atau bahan yang digunakan seperti: dupa, 7 telur, 7 ayam kampung, buah-buahan seperti: singkong, ubi, pisang Dll, nasi 3kg, garam cabe je cabbih, 7 lembar daun beringin.
B.  Saran
Demikian hasil riset yang dapat kelompok kami tulis, dengan adanya hasil penelitian ini kami berharap semoga orang yang membaca dapat menambah ilmu pengetahuan dan juga bermanfaat bagi kita semua. oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan tulisan kami selanjutnya.


[1] Ulekan garam dan cabai
[2] Dilambangkan sebagai shodaqoh


 [CROSS A51]Tidak matang sempurna (hanya sebagian/setengah mentah)

Senin, 16 Mei 2016



Sistem Just In Time
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas makalah manajemen operasi dan produksi syariah
Yang dibimbing oleh: Sukma Umbara Tirta Firdaus, S.PD.I, M.M



 







Disusun Oleh:
Maklub                        18201302020231
Sarrofatul jannah         18201302020353
Hasunah                      18201302020150
Danang                        18201302020060

SEKOLAH TUNGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN
JURUSAN SYARI’AH
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYAR’AH
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR
Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allas SWT. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Ilahi Rabbi yang telah memberikan hidayah serta inayahnya kepada kita sehingga kita dapat menulis makalah  “Manajemen operasi dan produksi syariah” dengan materi “Syistem Just in time”. Dan juga, hal ini tidak lepas dari dosen pengampuh yang membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.
Penyusunan makalah ini saya lakukan atas inspirasi dosen pengampuh yang sangat jenius dalam mendongkrak semangat para mahasiswanya dan memotifasi imajinasi mereka. Dan juga merupakan pelengkap nilai mata kuliah “Sejarah Peradaban Islam”.
Manusia adalah makhluk yang tidak lepas dari kodrat-Nya. Maka kami yakin penyusunan ini tidaklah sempurna, pasti terdapat kesalahan, baik dari isi maupun dalam penyusunan bahasa di dalamnya kami minta maaf jika makalah ini terdapat banyak kesalahan, kritik dan saran merupakan cahaya dan angin segar dalam mendalami ilmu tuhan yang tidak dapat dituliskan oleh tinta-tinta walau berpuluh-puluh lautan tinta dan juga menjadi tangga kesuksesan di masa depan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pamekasan, 11 September  2015


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................         i
Daftar isi .................................................................................................        ii
BAB I PENDAHULUAN
a.       Latar belakang ............................................................................        1
b.      Rumusan masalah .......................................................................        1
c.       Tujuan penulisan .........................................................................        1
BAB II  PEMBAHASAN
a.       Sejarah munculnya sistem just in time ........................................        2
b.      Pengertian sistem just in time .....................................................        2
c.       Prinsip dasar sistem just inn time (JIT)........................................        3
d.      Keuntungan dan kelemahan sistem just in time ..........................        4
e.       Perbedaan sistem just in time dengan Material Requirement Planing (MRP)                        4
BAB III PENUTUP
a.       Kesimpulan .................................................................................        6
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................        7



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Sistem pemanufak turantradisional mengatur skedulproduksinya berdasarkan pada peramalan kebutuhan di masa yangakan datang.Padahal tidak seorangpun yang dapat memprediksi masa yang akan dating dengan pastiwalaupun dia memiliki pemahaman yang sempurna tentang masa laludanmemiliki insting yang tajam terhadap kecendrungan yangterjadi di pasar Produksi berdasarkan prediksi terhadapmasa yang akan datang dalam sistem tradisonal memilikiresiko kerugian yang lebih besar karena over produksi daripada produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya.Oleh karena itu munculahide
Just InTime yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi hanya akanmemproduksi apabila diisyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai akibatnya pemborosoan  dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksiyanglebih rendah. Kedua haltersebut menjadikan perusahaanlebih kooperatif. Tujuan utama Just InTimeadalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yangdicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman
B.     Rumusan masalah
a.       Bagaimana sejarah munculnya sistem just in time ( JIT)
b.      Bagaimana pengertiannya sistem just in time
c.       Bagaimana prinsip dasar dari sistem just in time (JIT
d.      Bagaimana perbedaan antara sistem just in time dengan  Material Requirement Planing (MRP) 
C.     Tujuan
a.       Untuk mengetahui sejarah munculnya sistem just in time
b.      Untuk mengetahui definisi dari sistem just in time
c.       Untuk mengetahuai  prinsip dasar dari sistem just in time (JIT
d.      Untuk mengetahui perbedaan sistem just in time dengan sistem tradisional
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah just in time (JIT)
JIT merupakan sistem produksi yang dikembangkan oleh ahli-ahli produksi jepang, berupa metode-metode baru dalam aktivitas manajemen material dan pengendaliannya.suatu filosofi yang tujuannya dalah mengelimenasi segala sumber-sumber yang tidak produktif seperti persediaan yang tidak perlu dan skrap dalam proses produksi.
Timbulnya JIT dilandasi oleh karakteristik dari alam jepang dan budayaa masyarakatnya. Sedikitnya sumberdaya alam dan banyaknya penduduk, dibandingkan dengan lahan tanah yang ada menyebabkan mereka cendrung menghindari hal-hal yag tidak produktif sebanyak mungkin dalam setiap aspek kehidupannya.[1]
B.     Pengertian sistem persedian just in time (JIT)
Sistem persedian just in time adalah suatu sistem yang mengatur agar barang-barang produksi masuk dalam persediaan pada saat dibutuhkan ketimbang menyimpan sebagai cadangan (stok).[2]
Adapun menurut ilmuan lainnya Just In Time (JIT) adalah suatu sistem produksi yang dirancang untuk mendapatkan kualitas, menekan biaya, dan mencapai waktu penyerahan seefisien mungkin dengan menghapus seluruh jenis pemborosan yang terdapat dalam proses produksi sehingga perusahaan mampu menyerahkan produknya (baik barang maupun jasa) sesuai kehendak konsumen tepat waktu.[3]
Sistem ini dirintis oleh Toyota Motor Corporation dan dikenal juga dengan Sistem Produksi Toyota, yang kemudian dikenal juga dengan istilah Sistem Produksi Ramping (Lean Production System) dan sistem kanban.[4]
C.    Prinsip dasar just in time ( JIT ).
Konsep dasar sistem produksi just in time ( JIT ) adalah memproduksi item-item yang dibutuhkan “pada saat yang tepat dan dengan jumalah yang cermat”. [5]
Untuk keberhasilan penerapan sistem just in time ( JIT), maka diperlukan penekanan aspek-aspek pokok sebagai berikut :
1.      Produksi Just In Time (JIT), adalah memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan.
2.      Bermitra. Perusahaan mengembangkan hubugan yang  baik dengan pihak-pihak yang berkepentingan para kerja, pelanggan, pemasok, manajemen, dan pemegang saham.
3.      Adanya kometmen dari manajemen puncak untuk selalu meningkatkan mutu yang lebih tinggi, sehingga prodak rusak dan cacat sedaapat mungkin menjadi atau mendekati nol.
4.      Menekankann pada penyederhanaan aktivitas dan menggunakan sumberdaya yang tepat untuk sebuah proses dan kegiatan.
5.      Perbaikan terus menerus terhadap peningkatan efisienso prodak.
6.      Menghilangkan atau mengurangi pemborosan pada proses produksi.[6]
D.    Keuntungan dan kelemahan sistem JIT
Ø  Keuntungan sistem just in time
Tujuan just in time ( JIT ) adalah meningkatkan keuntungan dengan mereduksi biaya dan meningkatkan kualitas. Manfaat yang paling jelas dari penggunaan JIT adalah pengurangan dalam persediaan WIP. Disamping mereduksi investasi persediaan, maka biaya-biaya fasilitas, peralatan, dan tenaga kerja yang lebih rendah akan dapat di capai.[7]
Ø  Kelemahan sistem just in time
·         satu kelemahan sistem JIT adalah, tingkatan order ditentukan oleh data permintaan historis. Jika permintaan naik melebihi dari rata-rata perencanaan historis maka inventori akan habis dan akan mempengaruhi tingkat pelayanan konsumen[8]
E.     Perbedaan Sistem JIT dengan Material Requirement Planing (MRP)
JIT dan MRP mempunyai tujuan-tujuan yang serupa yaitu mereduksi investasi persediaan dan meningkatkan produktivitas dan pelayanan kepada konsumen. Sekalipun begitu, keduanya berbeda secara nyata.
1.      Sistem MRP didesain untukn membentuk perencanaan material yang realistik untuk pembatasan dan keterbatasan yang diberikan dalam suatu pabrik, sedangkan JIT berusaha keras untuk meningkatkan yang konstan, tidak menerima segala keterbatasan yang diberikan.
2.      MRP menggunakan sistem pemrosesan komputer yang cangging dan menciptakan jumlah kertas kerja yang banyak. Sedangkan JIT menggunakan kontrol visual dan sederhana untuk di implementasikan.
3.      MRP memperbolehkan sering berubah-ubahnya JIP, sedangkan JIT menggunakan jadwal yang merata.[9]
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
 JIT merupakan sistem produksi yang dikembangkan oleh ahli-ahli produksi jepang, berupa metode-metode baru dalam aktivitas manajemen material dan pengendaliannya.suatu filosofi yang tujuannya dalah mengelimenasi segala sumber-sumber yang tidak produktif seperti persediaan yang tidak perlu dan skrap dalam proses produksi.
Sistem persedian just in time adalah suatu sistem yang mengatur agar barang-barang produksi masuk dalam persediaan pada saat dibutuhkan ketimbang menyimpan sebagai cadangan (stok)
Konsep dasar sistem produksi just in time ( JIT ) adalah memproduksi item-item yang dibutuhkan “pada saat yang tepat dan dengan jumalah yang cermat”
Ø  Keuntungan sistem just in time
ü  Manfaat yang paling jelas dari penggunaan JIT adalah pengurangan dalam persediaan WIP. Disamping mereduksi investasi persediaan, maka biaya-biaya fasilitas, peralatan, dan tenaga kerja yang lebih rendah akan dapat di capai
Ø  Kelemahan sistem just in time
ü  tingkatan order ditentukan oleh data permintaan historis. Jika permintaan naik melebihi dari rata-rata perencanaan historis maka inventori akan habis dan akan mempengaruhi tingkat pelayanan konsumen.


DAFTAR PUSTAKA
Nasution, arman hakim dan yudha prasetyawan, perencanaan & pengendalian produksi, (yogyakarta: Graha ilmu, 2008)
Iwan purwanto, Manajemen Strategi, (Bandung: CV.Yrama Widya cet ke-II, 2008)
Hitoshi Takeda. 2006. The Synchronized Production System : Going Beyond Just-in-Time Through Kaizen. London, Kogan Page London and Philadephia
Sumarsan, thomas, sistem penegendalian manajemen konsep, aplikasi, dan pengukuran kinerja, (  Jakarta: PT. Indeks cet ke-2 2011)



[1] Nasution, arman hakim dan yudha prasetyawan, perencanaan & pengendalian produksi, (yogyakarta: Graha ilmu, 2008). Hal. 307
[2] Iwan purwanto, Manajemen Strategi, (Bandung: CV.Yrama Widya cet ke-II, 2008). Hal 163
[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Just_In_Time_(JIT)
[4] Hitoshi Takeda. 2006. The Synchronized Production System : Going Beyond Just-in-Time Through Kaizen. London, Kogan Page London and Philadephia
[5] Nasution, arman hakim dan yudha prasetyawan, perencanaan & pengendalian produksi, (yogyakarta: Graha ilmu, 2008). Hal. 309
[6] Sumarsan, thomas, sistem penegendalian manajemen konsep, aplikasi, dan pengukuran kinerja, (  Jakarta: PT. Indeks cet ke-2 2011). Hal 193-196
[7] Nasution, arman hakim dan yudha prasetyawan, perencanaan & pengendalian produksi, (yogyakarta: Graha ilmu, 2008). Hal. 315
[9] Nasution, arman hakim dan yudha prasetyawan, perencanaan & pengendalian produksi, (yogyakarta: Graha ilmu, 2008). Hal. 317