COP BUMI DI DESA
POLAGAN KABUPATEN SAMPANG
PENELITIAN
Disusun untuk Memenuhi Mata Kuliah Islam
dan Budaya Madura yang Diampu oleh Bapak Mohammad Ali Al-Humaidy, M.SI
Di
susun Oleh:
Aisyah
Rasdiana Yusuf
Alaina
Nurul Hikmah
Amnatus
Zahra
Desi
Ariska Fajariyah
Durrotun
Baido
Maisyuroh
Maklub

PROGRAM STUDI PERBANKAN
SYARIAH
JURUSAN EKONOMI DAN
BISNIS ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di antara
daerah-daerah persimpangan budaya, Madura khususnya kabupaten Sampang termasuk
salah satu yang banyak menyimpan tradisi dengan seluruh warna-warninya.
Masyarakat sampang yang sulit di definisikan dalam konteks etnik sangat kreatif
menciptakan pernik-pernik tradisi dan menjaga secara dinamis dalam rentang waktu cukup panjang.
Ritual cop
bumih ( menyelamati Bumi) dalam prakteknya selalu berdialog dengan perkembangan
sosial dan agama. Menyaksikan pelaksanaan ritual cop bumih kita gak
sulit memilah antara tradisi setempat dengan islam yang memang berumur tua
Madura khususnya kota sampang tepatnya di desa polagan. Doa yang dibaca
berhimpitan dengan dupa berisi kemeyan yang dibakar, disamping ritual untuk
menyelamati bumih ini, terlalu sulit dicari rujukannya dalam leteratur islam
ortodok. Tetapi, para pendukung tradisi itu, seperti yang menjadi focus
penelitian ini, adalah komunitas yang entah dari kapan memeluk agama islam
secara konsisten.
Ritual cop
bumih ini di lakukan setiap satu tahun sekali oleh warga disina, dan
biasanya di lakukan pada hari jum’at manis (Madura).
B.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Sosial
Awal
munculnya tradisi Cob Bumih yang dilakukan oleh masyarakat Desa Polagan ialah
untuk melakukan selamatan untuk bumi dengan harapan setelah melakukan ritual
ini, tanah/lahan mereka bisa menghasilkanpertanian tambak garam yang melimpah.
Dahulu,
di zamanpara leluhur, Desa polagan merupakan suatu daerah dengan tekstur tanah
yang tidak beraturan. Datarannya curam, menanjak dan tidak rata. Selain itu,
tanahnya juga tandus. Setiap hasil pertaniandi desa Polagan, khususnya tambak
garam yang memang membutuhkan lahan yang rata selalu mengalami kegagalan. Sulit
menemukan lahan subur yang bisa menghasilkan garam berkualitas dan melimpah.
Suatu
ketika, beberapa orang dari tujuh kampung di desa Polagan bertemu dan melakukan
suatu kesepatan untuk melakukan suatu ritual sebagai bentuk doa dan pengharapan
kepada Allah SWT. yang lantasmereka namakan sebagai "Cob Bumih". Cob
yang berarti mengalirkan doa, dan Bumih yang berarti bumi/tanah. Mereka juga
sepakat untuk melakukan ritual pada hari jumat legi, karena menurut para
leluhurjumat legi merupakan hari paling baik.
Seperti
yang telah disepakati sebelumnya, mereka kemudian melakukan ritual dan mengumpulkan
bahan-bahan yang diperlukan, seperti halnya mengumpulkan makanan/biji-bijian
yang dihasilkan tanah serta telur ayam kampung dari daerah masing-masing untuk
kemudian dikumpulkan sebagai lambang bumi yang bulat. Semua bahan serta doa-doa
yang dilkukan haruslah sebanyak tujuh untuk melambangkan keselamatan bagi tujuh
kampung yang dimaksud.
Ritual
cob bumih ini dilakukan pada setiap tanah yang akan ditempati sebagai lahan
pertenian tambak garam. Dan ketentuan baik tidaknya lahan tersebut tergantung pada
hasil telur kampung yang sudah direbus.
Setelah
ritual ini dilakukan, secara perlahan tekstur permukaan tanah di Desa Polagan
mulai membaik, hasil pertanian tambak garam pun mengalami peningkatan sehingga
ritual ini terus dilakukan dan diwariskan pada setiap generasi penerus.
B.
Pelaksanaan Upacara
Cop Bumih (bahasa
Madura) yang merupakan suatu adat/kebiasaan masyarakat untuk memberkati bumi
(tanah) khususnya tambak garam yang terdapat di desa Polagan kabupaten Sampang.
Ritual cop bumih dilaksanakan
melalui beberapa tahapan yang berurutan seperti yang dituturkan oleh Bapak
Baido saat kami temui di tempat kediamannya.
Pertama, mengumpulkan
bahan-bahan yang dibutuhkan bagi kepentingan ritual.
Kedua, mengundang
tokoh masyarakat yang dituakan dan dihormati di daerah tersebut.
Ketiga,
melakukan pembacaan doadi tempat yang akan digunakan sebagai lahan tambak
garam. Doa yang dimaksud di antaranya: surahal-Fatiha yang diiringi dengan
bacaan sholawat, surah al-Ikhlas, ayatkursi, dan diakhiri dengan doa
keselamatan. Kesemua bacaan tersebut masing-masing haruslah berjumlah sebanyak tujuh kali.
Keempat,pembukaan cangkang teluryang merupakan penentuan mengenai lahan
yang diritualkan.
kelima, nasi tumpeng beserta bahan lainnya yang telah menjadi tradisi pada
saat ritual cop bumih, selanjutnya dibagikan pada orang–orang yang
menghadiri acara ritualdi saat itu.
Terakhir, Cangkang telur yang sudah dicampur air, daun beringin dan bunga
kemudian dikubur di dalam tanah/bumi yang akan digunakan sebagai lahan
pertanian garam.
C.


Pemaknaan
Beberapa Simbol


Pemaknaan
Beberapa Simbol
Sudahsangat
sulit Masyarakat setempat di desa Polagan lebih hususnya lagi kaum anak muda
mengetahui dan memahami pemaknaan simbol-simbol yang terdapat dalam tradisi “cop bumih” ini. Beberapa masyarakat
beranggapan bahwa tradisi ini merupakan warisan dari nnek moyang atau parasesepuh yang harus
dipertahankan dengan tujuan yang tidak lain yaitu untuk memberkati (memberi
sesembahan bagi penguasa) bumi/tanah/lahan yang akan digarap agar selamat dari
bahaya dan bisa juga dijadikan sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat
yang telah Allah berikan melalui hasil panen yang dihasilkan oleh bumi hususnya
masyarakat desa Polagan kota Sampang, serta supaya hasil bumi masyarakat di
sana lebih baik dan sesuai harapan (melimpah).
Menurut
hasil dari wawancara yang kami lakukan pada hari minggu april 2016 dengan salah
satu warga yaitu Bapak Moh. Hannan usia 65 tahun dan Ibu Kosim usia 90 tahun,
beliau mengatakan alat-alat yang di gunakan dalam acara tradisi “cop bumih”
diantaranya:
1.
Dupa
2.
7 butir telur ayam kampung
3.
Makanan/biji-bijian hasil bumi seperti kacang tanah, dll.
4.
Nasi tumpeng
5.
7 lembar daun beringin
6. Buje
Cabbih
7.
Campuran bunga dan air
8.
Uang (seikhlasnya)
Makna
filosofi dan rasionalisasi dari bahan-bahan yang dikumpulkan.
1.
Dupa.
Masyarakat Madura, khususnya Polagan sangat meyakini bahwa dapat memanggil dan
menghadirkan arwah para leluhur yang telah wafat. Dupa di sini digunakan untuk
memanggil para nenek moyang pemilik lahan tambak terdahulu untuk meminta doa
serta restu mereka.
2.
7
butir telur ayam kampung ini sebagai lambang dari bumi/tanah yang ada pada
tujuh kampung yang pada zaman dahulu melakukan ritual pertama kali. 7 butir
telur ini direbus bersamaan hingga matang. Apabila setelah
di rebus kemudian cangkangnya di dan hasilnya bagus (matang sempurna
keseluruhan), artinya bumi/lahan yang akan digarap itu dalam kondisi baik.
Sedangkan apabila setelah cangkan dibuka dan telurnya koccor[CROSS A51] (setengah matang) maka, bumi yang hendak digunakan
sebagai lahan dalam kondisi buruk.
3. Makanan hasil bumi seperti: singkong,
ketela, kacang, ubi dsb. diartikan sebagai rasa syukur dari hasil bumi yang
telah diperoleh sebelumnya, dengan harapan semoga hasil tambak kedepannya lebih
banyak lagi.
4.
nasi
tumpeng 3 kg sebagai lambang tanah subur yang ditumbuhi oleh pohon beringin.
5. 7 daun beringin. Pohon beringin
merupakan tumbuhan kokoh dan memiliki daun yang lebat. Siapa pun yang berada di
bawahnya pasti merasa nyaman, teduh, dan terlndung dari sinar matahari.Para
leluhur memilih daun berigin sebagai salah satu bahan persembahan, karena
mereka berharap 7 kampung yang mereka maksud akan selalu dinaungi dengan
barokah dan dilindungi dari malapetaka.
6. buje cabbih[1]
karena pulau madura terkenal dengan pulau
garam, dan diharapkan kualitas garam di Madura semakin baik sehingga
Madura bisa mempertahankan status tersebut.
7. Bunga dan air sebagai campuran cangkang
telur yangkemudian akan dikubur bersamaan untuk menghilangkan bau amis yang
mungkin tertinggal.
8. Uang sebagai rebbe.[2]
D.
Merawat Tradisi
Seperti halnya dari lain di Madura yang
sangat kental sekali dengan adat masing-masing, tradisi cop bumih.
Sekilas tentang wawancara kami dengan Bapak Imam.
Apa yang bapak ketahui tentang tradisi cob bumih?
"Saya tidak
terlalu paham mengenai anggapan masyarakat terdahulu terkait dengan tradisi
ini, karena ada perbedaan antara dulu
dan sekarang, baik dari segi pelakasanaan atau juga alat yang digukan. Kami
masih menjalaninya karena semua itu merupaka warisan dari nenek moyang. Yang
saya tahu, cob bumih dilaksanakan tidak hanya untuk pertanian tambak garam,
tapi juga saat akan melaksanakan pembangunan rumah, dan harus dilaksankan hari
jumat manis."
Saat penelitian, kami sempat melakukan ritual kecil dari cob
bumih guna mencoba mengerti dan memahami tradisi tersebut lebih dalam.
Kamipun mengikuti semua intruksi yang diarahkan oleh Bapak Baido dan mencari
beberapa bahan yang diperlukan.
Mulai dari pembagian tugas untuk mecari
alat, pembacaan doa ritual, hingga penguburan kulit telur dan bunga kai
lakukan secara suka cita, meski matahari siang itu sedang terik-teriknya.
Pada waktu pemecahan cangkang telur, kami
dibuat sedikit tercengang karena ketepatan ada dua telur ayam yang tidak matang
secara sempurna. Yang berarti, tanah/bumi yang kami berkati sedang dalam
keadaan buruk.
E.
Perbedaan Tradisi Terdahulu dan Sekarang
Dulu,
masyarakat Polagan melakukan ritual dengan hanya mengumpulkan bahan-bahan yang
telah disebut di atas, sedangkan masyarakat sekarang menambahkan beberapa menu
makanan sebagai pelengkap dan untuk menambah cita rasa, seperti: daging ayam,
oseng, sayuran, dsb.
Berikut
isi wawancara kami bersama Bapak Imam mengenai penambahan bahan makanan sebagai
pelengkap.
Kenapa
bahan persembahan ditambahi denganoseng sayur, ayam goreng,
dll.?
"Ya,
biar makanannya tambah nikmat, Cong!"
Tradisi
yang dilakukan oleh masyarakat saat ini juga tidak keseluruhan menggunakan
makanan/biji-bijian yng dihasilkan tanah sebagai persembahan. Sebagian dari
mereka menggantinya dengan buah-buahan seperti halnya pisang.
F.
Narasumber
1.
Bapak Baido
2. Bapak Moh. Hannan
3. Ibu Kosim
4. Bapak Imam
G.
Dokumentasi Penelitian

![]() |
|||
![]() |
|||

![]() |
|||
![]() |
|||



![]() |


BAB
III
KESIMPULAN
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan hasil penelitian yang
kelompok kami teliti dapat disimpulkan bahwa tradisi cop bumih adalah tradisi yang biasa masyarakat desa Polagan kota
Sampang dilakukan dalam satu tahun sekali tepatnya malam jum’at yaitu sebagai
untuk menyelamtkan bumi agar apa yang kita tananm baik dan sesuai dengan
harapan masyarakat tersebut. Cop bumih sudah ada sejak dahulu dari para nenek moyang
kita. dalam melaksakan tradisi cop bumih alat
atau bahan yang digunakan seperti: dupa, 7 telur, 7 ayam kampung, buah-buahan
seperti: singkong, ubi, pisang Dll, nasi 3kg, garam cabe je cabbih, 7 lembar daun beringin.
B.
Saran
Demikian
hasil riset yang dapat kelompok kami tulis, dengan adanya hasil penelitian ini
kami berharap semoga orang yang membaca dapat menambah ilmu pengetahuan dan
juga bermanfaat bagi kita semua. oleh karena itu, kami sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan tulisan kami selanjutnya.
[CROSS A51]Tidak
matang sempurna (hanya sebagian/setengah mentah)




