Senin, 13 Juni 2016

Ramadhan, Momentum Kebangkitan Ekonomi Islam



Ramadhan, Momentum Kebangkitan Ekonomi Islam
s
elama ini kerap timbul kesan bagi sebagian umat Islam bahwa bulan Ramadhan adalah bulan istirahat dan bulan berleha-leha menunggu kumandang adzan maghrib. Pemahaman seperti ini timbul dari salah baca terhadap makna Ramadhan yang sebenarnya. Secara etimologi, Ramadhan berasal dari akar kata “ramadl” yang berarti “membakar”. Artinya, Ramadhan adalah momentum umat Islam untuk membakar dosa lebih intensif dibandingkan bulan lain, sehingga usaha dan semangat beribadah pun mesti lebih massif dilakukan. Konon, para sahabat mempersiapkan penyambutan Ramadhan selama enam bulan. Enam bulan setelahnya, mereka khusyuk meminta kepada Allah swt. agar ibadah shaum-nya diterima.
Dalam lembaran sejarah generasi terdahulu, jihad sebagai jalan meraih kejayaan Islam kerap digelorakan justru pada bulan Ramadhan. Penaklukan, kemenangan dan kejayaan Islam seringkali dijumput dan diraih pada bulan ini.
Kalender 18 Ramadhan tahun ke-8 Hijrah, Rasulullah saw bersama 12000 kaum Muslimin bertolak dari Madinah menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah (penaklukan Makkah). Pembukaan kota Makkah ini menandai sebuah era baru di dalam Islam setelah sebelumnya kaum Muslimin selalu tertindas bahkan dikepung oleh pasukan Ahzab (sekutu) selama berminggu-minggu di Madinah. Era baru ini dibangkitkan oleh Rasulullah melalui PerangAhzab dengan sabdanya; “Setelah tahun ini, kaum Quraisy tidak akan berani mendatangi kalian, kekuatan mereka telah musnah, dan mereka tidak akan memerangi kita sesudah hari ini. Sekarang giliran kita yang akan memerangi mereka, Insya Allah.”
Pada 28 Ramadhan tahun ke-92 Hijrah (19 Juli 711 Masehi), kaum Muslimin di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad membuka Andalusia (Spanyol) yang dikenal dengan sebutan Futuh Andalusia.
Thariq bin Ziyad menyeberangi selat antara Afrika dan Eropa atas perintah Musa bin Nushair; penguasa Islam kala itu. Ketika pasukan Islam sampai di seberang, beliau memerintahkan agar kapal-kapal perang Islam dibakar. Kemudian ia berpidato di hadapan pasukannya: “Musuh di depan kalian. Apabila kalian mundur, lautan ada di belakang kalian.” Ucapan ini melahirkan kekuatan dahsyat. Berturutturut kota Demi kota jatuh ke tangan Kaum Muslimin. Akhirnya pada Bulan Ramadhan, Andalusia jatuh Ke tangan kaum Muslimin. Sejarah mencatat, di kemudian hari Andalusia menjadi pusat Ilmu pengetahuan dan mercu peradaban manusia di zamannya.
Perang Badar sebagai perang terbesar dan kemenangan terbesar yang diraih umat Islam di awal perkembangannya di Madinah  juga terjadi pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah. Begitu juga dengan keberhasilan Raja Bebes dan tentaranya mengusir tentara Salib secara total terjadi pada Ramadhan tahun 675 H. Keberhasilan umat Islam menghancurkan tentara Tartar di perang “’Ain Jalut” juga terjadi pada 15 Ramadhan 658 H. Masih banyak lagi peristiwa penting pada bulan ini yang melengkapi antithesis pemahaman sebagian umat Islam selama ini.
Apa yang ingin disampaikan dari peristiwa di atas? Dalam konteks historis, bulan Ramadhan merupakan momentum penting dan monumental dalam kebangkitan dan kejayaan Islam. Telah banyak perubahan besar dalam sejarah dakwah Islam yang terjadi pada bulan ini. Ramadhan juga telah mengantarkan Islam tersebar ke semenanjung Afrika dan Eropa. Sementara dalam konteks ibadah, Ramadhan adalah bulan semangat dan motivasi untuk memperbaiki diri dengan sederet ketaatan. Dus, saatnya generasi berikutnya menapaktilasi dan mengukir kembali kemenangan-kemenangan itu, merebut kembali perabadan Islam yang terampas.
Dalam perspektif kekinian, perang dengan fisik bukan hal yang ideal. Mengambil alih peradaban tidak lagi tepat dilakukan dengan todongan mesiu dan pedang. Peradaban saat ini dihegemoni oleh mereka yang menguasai ekonomi. Maka, meraih peradaban mesti dilakukan dengan memperkuat aspek ekonomi itu. Kebangkitan Islam hanya akan terejawantah dalam wujudnya yang ideal ketika ekonomi Islam dapat membumi dan menjadi landasan aktifitas perekonomian umatnya.
Di sinilah, bulan Ramadhan menjadi momentum lahirnya semangat dan kesadaran umat Islam untuk melakukan aktifitas ekonomi sesuai ajaran agamanya: menanggalkan riba (bunga), menjauhi gharar, maysir, tadlis, ihtikar dan lain sebagainya. Sebab, implikasi puasa sejatinya tidak saja berdimensi ibadah spiritual an-sich, tetapi juga mengajarkan akhlak horizontal (mu’amalah), khususnya dalam bidang bisnis. Aneh bila ada orang berpuasa dengan khusyuk, tetapi melanggar ajaran-ajaran Allah dalam mu’amalah, seperti masih mempraktikkan riba yang diharamkan.
Transaksi ribawi pada dasarnya timbul dari keserakahan hawa nafsu untuk mendapatkan keuntungan semu. Padahal nafsu adalah musuh terbesar umat Islam. Maka genderang perang terhadap riba untuk membunuh hawa nafsu harus ditabuh dari sekarang. Ketika Rasulullah kembali dari salah satu peperangannya, beliau bersabda: “Kalian telah tampil ke depan dengan cara terbaik. Untuk itu, kalian telah kembali dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.” Mereka berkata: “Apakah jihad yang lebih besar itu?” Beliau menjawab: “Perjuangan hamba-hamba Allah atas hawa nafsu mereka.”
Setelah kesadaran itu muncul, implementasi aktifitas ekonomi syariah ini diharapkan dapat memperkuat sendi perekonomian umat yang puncaknya akan melahirkan social distributive justice (keadilan distribusi sosial). Harta tidak hanya berputar pada segelintir orang. Konsep zakat, infak, shadaqah dan wakaf akan berjalan optimal. Secara kuantitatif, ukuran keberhasilan kondisi ini dapat direpresentasikan dalam langkah nyata pada tingkat kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan standar lain yang lazim digunakan. Sementara secara aplikatifempirik bisa dilihat dengan kemampuan Menghadapi krisis Panjang (benchmark kasus Nabi Yusuf) dan upaya mengentaskan kemiskinan Sehingga tidak ditemukan lagi mustahiq zakat seperti pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, Dan wujudnya Kecintaan masyarakat luas kepada ilmu pengetahuan yang tinggi Seperti tercermin dalam pemerintahan Harun al-Rasyid. Wallahu A’ lam bisshawab. (Mahbubi Ali)

Rabu, 18 Mei 2016

tradisi cop bumih sampang madura

COP BUMI DI DESA POLAGAN KABUPATEN SAMPANG
PENELITIAN
Disusun untuk Memenuhi Mata Kuliah Islam dan Budaya Madura yang Diampu oleh Bapak Mohammad Ali Al-Humaidy, M.SI
Di susun Oleh:
Aisyah Rasdiana Yusuf
Alaina Nurul Hikmah
Amnatus Zahra
Desi Ariska Fajariyah
Durrotun Baido
Maisyuroh
Maklub





PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH
JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
SEKOLAHTINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PAMEKASAN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Di antara daerah-daerah persimpangan budaya, Madura khususnya kabupaten Sampang termasuk salah satu yang banyak menyimpan tradisi dengan seluruh warna-warninya. Masyarakat sampang yang sulit di definisikan dalam konteks etnik sangat kreatif menciptakan pernik-pernik tradisi dan menjaga secara dinamis dalam rentang waktu cukup panjang.
Ritual cop bumih ( menyelamati Bumi) dalam prakteknya selalu berdialog dengan perkembangan sosial dan agama. Menyaksikan pelaksanaan ritual cop bumih kita gak sulit memilah antara tradisi setempat dengan islam yang memang berumur tua Madura khususnya kota sampang tepatnya di desa polagan. Doa yang dibaca berhimpitan dengan dupa berisi kemeyan yang dibakar, disamping ritual untuk menyelamati bumih ini, terlalu sulit dicari rujukannya dalam leteratur islam ortodok. Tetapi, para pendukung tradisi itu, seperti yang menjadi focus penelitian ini, adalah komunitas yang entah dari kapan memeluk agama islam secara konsisten.
Ritual cop bumih ini di lakukan setiap satu tahun sekali oleh warga disina, dan biasanya di lakukan pada hari jum’at manis (Madura).



B.      
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Sejarah Sosial
       Awal munculnya tradisi Cob Bumih yang dilakukan oleh masyarakat Desa Polagan ialah untuk melakukan selamatan untuk bumi dengan harapan setelah melakukan ritual ini, tanah/lahan mereka bisa menghasilkanpertanian tambak garam yang melimpah.
       Dahulu, di zamanpara leluhur, Desa polagan merupakan suatu daerah dengan tekstur tanah yang tidak beraturan. Datarannya curam, menanjak dan tidak rata. Selain itu, tanahnya juga tandus. Setiap hasil pertaniandi desa Polagan, khususnya tambak garam yang memang membutuhkan lahan yang rata selalu mengalami kegagalan. Sulit menemukan lahan subur yang bisa menghasilkan garam berkualitas dan melimpah.
       Suatu ketika, beberapa orang dari tujuh kampung di desa Polagan bertemu dan melakukan suatu kesepatan untuk melakukan suatu ritual sebagai bentuk doa dan pengharapan kepada Allah SWT. yang lantasmereka namakan sebagai "Cob Bumih". Cob yang berarti mengalirkan doa, dan Bumih yang berarti bumi/tanah. Mereka juga sepakat untuk melakukan ritual pada hari jumat legi, karena menurut para leluhurjumat legi merupakan hari paling baik.
       Seperti yang telah disepakati sebelumnya, mereka kemudian melakukan ritual dan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan, seperti halnya mengumpulkan makanan/biji-bijian yang dihasilkan tanah serta telur ayam kampung dari daerah masing-masing untuk kemudian dikumpulkan sebagai lambang bumi yang bulat. Semua bahan serta doa-doa yang dilkukan haruslah sebanyak tujuh untuk melambangkan keselamatan bagi tujuh kampung yang dimaksud.
       Ritual cob bumih ini dilakukan pada setiap tanah yang akan ditempati sebagai lahan pertenian tambak garam. Dan ketentuan baik tidaknya lahan tersebut tergantung pada hasil telur kampung yang sudah direbus.
          Setelah ritual ini dilakukan, secara perlahan tekstur permukaan tanah di Desa Polagan mulai membaik, hasil pertanian tambak garam pun mengalami peningkatan sehingga ritual ini terus dilakukan dan diwariskan pada setiap generasi penerus.
B.  Pelaksanaan Upacara
Cop Bumih (bahasa Madura) yang merupakan suatu adat/kebiasaan masyarakat untuk memberkati bumi (tanah) khususnya tambak garam yang terdapat di desa Polagan kabupaten Sampang. Ritual cop bumih  dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang berurutan seperti yang dituturkan oleh Bapak Baido saat kami temui di tempat kediamannya.
Pertama, mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan bagi kepentingan ritual.
Kedua, mengundang tokoh masyarakat yang dituakan dan dihormati di daerah tersebut.
Ketiga, melakukan pembacaan doadi tempat yang akan digunakan sebagai lahan tambak garam. Doa yang dimaksud di antaranya: surahal-Fatiha yang diiringi dengan bacaan sholawat, surah al-Ikhlas, ayatkursi, dan diakhiri dengan doa keselamatan. Kesemua bacaan  tersebut masing-masing haruslah berjumlah sebanyak tujuh kali.
Keempat,pembukaan cangkang teluryang merupakan penentuan mengenai lahan yang diritualkan.
kelima, nasi tumpeng beserta bahan lainnya yang telah menjadi tradisi pada saat ritual cop bumih, selanjutnya dibagikan pada orang–orang yang menghadiri acara ritualdi saat itu.
Terakhir, Cangkang telur yang sudah dicampur air, daun beringin dan bunga kemudian dikubur di dalam tanah/bumi yang akan digunakan sebagai lahan pertanian garam.
C.  Pemaknaan Beberapa Simbol




 







Sudahsangat sulit Masyarakat setempat di desa Polagan lebih hususnya lagi kaum anak muda mengetahui dan memahami pemaknaan simbol-simbol yang terdapat dalam tradisi “cop bumih” ini. Beberapa masyarakat beranggapan bahwa tradisi ini merupakan warisan dari nnek  moyang atau parasesepuh yang harus dipertahankan dengan tujuan yang tidak lain yaitu untuk memberkati (memberi sesembahan bagi penguasa) bumi/tanah/lahan yang akan digarap agar selamat dari bahaya dan bisa juga dijadikan sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat yang telah Allah berikan melalui hasil panen yang dihasilkan oleh bumi hususnya masyarakat desa Polagan kota Sampang, serta supaya hasil bumi masyarakat di sana lebih baik dan sesuai harapan (melimpah).
Menurut hasil dari wawancara yang kami lakukan pada hari minggu april 2016 dengan salah satu warga yaitu Bapak Moh. Hannan usia 65 tahun dan Ibu Kosim usia 90 tahun, beliau mengatakan alat-alat yang di gunakan dalam acara tradisi “cop bumih” diantaranya:
1. Dupa
2. 7 butir telur ayam kampung
3. Makanan/biji-bijian hasil bumi seperti kacang tanah, dll.
4. Nasi tumpeng
5. 7 lembar daun beringin
6. Buje Cabbih
7. Campuran bunga dan air
8. Uang (seikhlasnya)
Makna filosofi dan rasionalisasi dari bahan-bahan yang dikumpulkan.
1.       Dupa. Masyarakat Madura, khususnya Polagan sangat meyakini bahwa dapat memanggil dan menghadirkan arwah para leluhur yang telah wafat. Dupa di sini digunakan untuk memanggil para nenek moyang pemilik lahan tambak terdahulu untuk meminta doa serta restu mereka.
2.       7 butir telur ayam kampung ini sebagai lambang dari bumi/tanah yang ada pada tujuh kampung yang pada zaman dahulu melakukan ritual pertama kali. 7 butir telur ini direbus bersamaan hingga matang. Apabila setelah di rebus kemudian cangkangnya di dan hasilnya bagus (matang sempurna keseluruhan), artinya bumi/lahan yang akan digarap itu dalam kondisi baik. Sedangkan apabila setelah cangkan dibuka dan telurnya koccor[CROSS A51] (setengah matang) maka, bumi yang hendak digunakan sebagai lahan dalam kondisi buruk.
3.      Makanan hasil bumi seperti: singkong, ketela, kacang, ubi dsb. diartikan sebagai rasa syukur dari hasil bumi yang telah diperoleh sebelumnya, dengan harapan semoga hasil tambak kedepannya lebih banyak lagi.
4.       nasi tumpeng 3 kg sebagai lambang tanah subur yang ditumbuhi oleh pohon beringin.
5.      7 daun beringin. Pohon beringin merupakan tumbuhan kokoh dan memiliki daun yang lebat. Siapa pun yang berada di bawahnya pasti merasa nyaman, teduh, dan terlndung dari sinar matahari.Para leluhur memilih daun berigin sebagai salah satu bahan persembahan, karena mereka berharap 7 kampung yang mereka maksud akan selalu dinaungi dengan barokah dan dilindungi dari malapetaka.
6.      buje cabbih[1] karena pulau madura terkenal dengan pulau  garam, dan diharapkan kualitas garam di Madura semakin baik sehingga Madura bisa mempertahankan status tersebut.
7.      Bunga dan air sebagai campuran cangkang telur yangkemudian akan dikubur bersamaan untuk menghilangkan bau amis yang mungkin tertinggal.
8.      Uang sebagai rebbe.[2]



D.  Merawat Tradisi
       Seperti halnya dari lain di Madura yang sangat kental sekali dengan adat masing-masing, tradisi cop bumih.
       Sekilas tentang wawancara kami dengan Bapak Imam.
       Apa yang bapak ketahui tentang tradisi cob bumih?
       "Saya tidak terlalu paham mengenai anggapan masyarakat terdahulu terkait dengan tradisi ini, karena  ada perbedaan antara dulu dan sekarang, baik dari segi pelakasanaan atau juga alat yang digukan. Kami masih menjalaninya karena semua itu merupaka warisan dari nenek moyang. Yang saya tahu, cob bumih dilaksanakan tidak hanya untuk pertanian tambak garam, tapi juga saat akan melaksanakan pembangunan rumah, dan harus dilaksankan hari jumat manis."
       Saat penelitian, kami sempat melakukan ritual kecil dari cob bumih guna mencoba mengerti dan memahami tradisi tersebut lebih dalam. Kamipun mengikuti semua intruksi yang diarahkan oleh Bapak Baido dan mencari beberapa bahan yang diperlukan.
       Mulai dari pembagian tugas untuk mecari alat, pembacaan doa ritual, hingga penguburan kulit telur dan bunga kai lakukan secara suka cita, meski matahari siang itu sedang terik-teriknya.
       Pada waktu pemecahan cangkang telur, kami dibuat sedikit tercengang karena ketepatan ada dua telur ayam yang tidak matang secara sempurna. Yang berarti, tanah/bumi yang kami berkati sedang dalam keadaan buruk.
E.  Perbedaan Tradisi Terdahulu dan Sekarang
       Dulu, masyarakat Polagan melakukan ritual dengan hanya mengumpulkan bahan-bahan yang telah disebut di atas, sedangkan masyarakat sekarang menambahkan beberapa menu makanan sebagai pelengkap dan untuk menambah cita rasa, seperti: daging ayam, oseng, sayuran, dsb.
       Berikut isi wawancara kami bersama Bapak Imam mengenai penambahan bahan makanan sebagai pelengkap.
       Kenapa bahan persembahan ditambahi denganoseng sayur, ayam goreng, dll.?
       "Ya, biar makanannya tambah nikmat, Cong!"
       Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat saat ini juga tidak keseluruhan menggunakan makanan/biji-bijian yng dihasilkan tanah sebagai persembahan. Sebagian dari mereka menggantinya dengan buah-buahan seperti halnya pisang.
F.   Narasumber
            1. Bapak Baido
            2. Bapak Moh. Hannan
            3. Ibu Kosim
            4. Bapak Imam
G. Dokumentasi Penelitian

IMG_20160424_104028.jpg
IMG_20160424_104140.jpg

IMG_20160424_105902.jpg
 










BAB III
KESIMPULAN
A.  Kesimpulan
Dari pembahasan hasil penelitian yang kelompok kami teliti dapat disimpulkan bahwa tradisi cop bumih adalah tradisi yang biasa masyarakat desa Polagan kota Sampang dilakukan dalam satu tahun sekali tepatnya malam jum’at yaitu sebagai untuk menyelamtkan bumi agar apa yang kita tananm baik dan sesuai dengan harapan masyarakat tersebut. Cop bumih  sudah ada sejak dahulu dari para nenek moyang kita. dalam melaksakan tradisi cop bumih alat atau bahan yang digunakan seperti: dupa, 7 telur, 7 ayam kampung, buah-buahan seperti: singkong, ubi, pisang Dll, nasi 3kg, garam cabe je cabbih, 7 lembar daun beringin.
B.  Saran
Demikian hasil riset yang dapat kelompok kami tulis, dengan adanya hasil penelitian ini kami berharap semoga orang yang membaca dapat menambah ilmu pengetahuan dan juga bermanfaat bagi kita semua. oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan tulisan kami selanjutnya.


[1] Ulekan garam dan cabai
[2] Dilambangkan sebagai shodaqoh


 [CROSS A51]Tidak matang sempurna (hanya sebagian/setengah mentah)