Minggu, 17 Januari 2016

sejarah tajin mira putih bulan sappar di madura

  BUBUR (TAJIN) MIRA PUTIH SETIAP BULAN SAPPAR
            Secara geografis pulau Madura adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah timur laut jawa yang terdiri dari 4 (empat) kabupaten, dengan luas kurang lebih 5,168 km pulau ini lebih kecil dari pada pulau Bali dengan penduduk hampir 4 juta jiwa. Untuk sampai kepulau Madura ini dapat ditempuh dengan 2 cara. 1. Memanfaatkan jasa penyebrangan pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Kamal (Bangkalan, Madura), 2. Jempatan Suramadu dengan jarak 5,4 km.
            Di pulau Madura ini disetiap kabupaten mempunyai budaya dan tradisi masing-masing, budaya dan tradisi tersebut berbeda dengan budaya dan tradisi yang ada di wilayah lain, seperti halnya kerapan sapi, petik laut, rokat, macopat dan masih banyak lainnya yang tidak dapat saya sebutkan semuanya. Dari budaya dan tradisi tersebut ada yang unik seperti yang terdapat di tanah kelahiranku yakni di dusun Idaman Dharma Tanjung Camplong Sampang yaitu membuat bubur (tajin) pada setiap bulan Safar atau dikenal dengan bulan sappar di kalangan masyarakat Madura, dengan minimal dua warna seperti contoh warna mira dengan warna putih dan warna coklat dengan warna putih namun yang sering di pakai oleh masyarakat adalah warna mira  dengan warna putih karena mempunyai arti yang sangat mendalam.
            Menurut salah satu tokoh yang ada di desa saya bahwa sannya masyarakat Madura khususnya yang ada di desa Idaman Dharma Tanjung Camplong kabupaten Sampang membuat bubur mira putih ada beberapa alasan dalam pembuatan bubur (tajin) mira putih tersebut, yang pertama merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah, seperti yang telah dilakukan oleh nabi Nuh terdahulu dalam memasak sisa-sisa bekal pada kejadian banjir bandang yang menimpa kaumnya yang ingkar, yang kedua yaitu untuk mengenang sejarah penting dalam Islam, yakni terbunuhnya Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib oleh Yazid bin Muawiyah.
            Kejadian pembunuhan terhadap cucunya Rasulullah, tidak boleh kita lupakan begitu saja sebagai generasi Islam setelah Nabi, salah satu bentuk kita sebagai generasi muslim khususnya orang Madura dalam mengenang kejadian-kejadian yang ada di dalam Islam adalah membuat bubur (tajin) mira putih pada setip bulan safar yang dibagikan kepada tetangganya, hal tersebut merupakan bentuk perlambangan dalam mengenang pembunuhan terhadap Sayyidina Husain oleh Yazid bin Muawiyah.
            Dalam pembuatannya bubur (tajin) mira putih ini berbeda dengan bubur seperti biasanya seperti halnya bubur pedas, bubur manis. Adapun dalam pembuatan bubur (tajin) mira putih ini yang dibuat adalah tepung bukan berasnya, dimana bubur (tajin) yang berwarna mira di buat dengan tepung ketan dengan rasa manis, sedangkan tajinn yang berwarna putih dibuat dengan tepung beras dengan rasa asin, itulah cara pembuatannya dalam tajin mira putih pada setiap bulan sapar.
            Bubur warna putih bermakna rasa syukur akan panjangnya umur hingga mendapatkan tahun baru kembali, semoga kehidupan tambah makmur. Selain itu warna putih bermakna kesucian hati yang selalu menang dalam catatan sejarah yang panjang, meskipun kemenangan itu tidak selamanya identik dengan kekuasaan.
            Adapun tajin mera bermakna pembanding yang selalu hadir dalam kehidupan di dunia berpasang-pasangan. Ada indah ada buruk, ada kebaikan ada kejahatan.
Sampang, 24 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar