BUBUR (TAJIN) MIRA PUTIH
SETIAP BULAN SAPPAR
Secara geografis
pulau Madura adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah timur laut jawa yang
terdiri dari 4 (empat) kabupaten, dengan luas kurang lebih 5,168 km pulau ini
lebih kecil dari pada pulau Bali dengan penduduk hampir 4 juta jiwa. Untuk
sampai kepulau Madura ini dapat ditempuh dengan 2 cara. 1. Memanfaatkan jasa
penyebrangan pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Kamal (Bangkalan, Madura), 2.
Jempatan Suramadu dengan jarak 5,4 km.
Di pulau Madura ini
disetiap kabupaten mempunyai budaya dan tradisi masing-masing, budaya dan
tradisi tersebut berbeda dengan budaya dan tradisi yang ada di wilayah lain,
seperti halnya kerapan sapi, petik laut, rokat, macopat dan masih banyak
lainnya yang tidak dapat saya sebutkan semuanya. Dari budaya dan tradisi
tersebut ada yang unik seperti yang terdapat di tanah kelahiranku yakni di
dusun Idaman Dharma Tanjung Camplong Sampang yaitu membuat bubur (tajin) pada
setiap bulan Safar atau dikenal dengan bulan sappar di kalangan masyarakat
Madura, dengan minimal dua warna seperti contoh warna mira dengan warna putih
dan warna coklat dengan warna putih namun yang sering di pakai oleh masyarakat
adalah warna mira dengan warna putih
karena mempunyai arti yang sangat mendalam.
Menurut salah satu
tokoh yang ada di desa saya bahwa sannya masyarakat Madura khususnya yang ada
di desa Idaman Dharma Tanjung Camplong kabupaten Sampang membuat bubur mira
putih ada beberapa alasan dalam pembuatan bubur (tajin) mira putih tersebut,
yang pertama merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah, seperti yang telah
dilakukan oleh nabi Nuh terdahulu dalam memasak sisa-sisa bekal pada kejadian
banjir bandang yang menimpa kaumnya yang ingkar, yang kedua yaitu untuk
mengenang sejarah penting dalam Islam, yakni terbunuhnya Sayyidina Husain bin Ali
bin Abi Thalib oleh Yazid bin Muawiyah.
Kejadian
pembunuhan terhadap cucunya Rasulullah, tidak boleh kita lupakan begitu saja
sebagai generasi Islam setelah Nabi, salah satu bentuk kita sebagai generasi muslim
khususnya orang Madura dalam mengenang kejadian-kejadian yang ada di dalam Islam
adalah membuat bubur (tajin) mira putih pada setip bulan safar yang dibagikan
kepada tetangganya, hal tersebut merupakan bentuk perlambangan dalam mengenang
pembunuhan terhadap Sayyidina Husain oleh Yazid bin Muawiyah.
Dalam pembuatannya
bubur (tajin) mira putih ini berbeda dengan bubur seperti biasanya seperti
halnya bubur pedas, bubur manis. Adapun dalam pembuatan bubur (tajin) mira
putih ini yang dibuat adalah tepung bukan berasnya, dimana bubur (tajin) yang
berwarna mira di buat dengan tepung ketan dengan rasa manis, sedangkan tajinn
yang berwarna putih dibuat dengan tepung beras dengan rasa asin, itulah cara
pembuatannya dalam tajin mira putih pada setiap bulan sapar.
Bubur warna putih
bermakna rasa syukur akan panjangnya umur hingga mendapatkan tahun baru
kembali, semoga kehidupan tambah makmur. Selain itu warna putih bermakna
kesucian hati yang selalu menang dalam catatan sejarah yang panjang, meskipun
kemenangan itu tidak selamanya identik dengan kekuasaan.
Adapun tajin mera
bermakna pembanding yang selalu hadir dalam kehidupan di dunia
berpasang-pasangan. Ada indah ada buruk, ada kebaikan ada kejahatan.
Sampang, 24 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar